Terbanglah seperti burung elang. Berenanglah seperti lumbalumba, kata Mary Ann Hoberman di depan anak-anak. Hoberman suka menulis sejak duduk di bangku sekolah dasar. Dia selalu mencurahkan isi pikiran lewat tulisan. Dia punya buku khusus yang dinamai Journey of Life. Buku ini memuat tulisan tangan Hoberman selama bertahun-tahun. Buku ini seperti novel berseri. Journey of Life jilid satu hingga tiga belas berjajar rapi di sebuah rak dalam kamar Hoberman. Bagi Hoberman, menulis bukan lagi kebiasaan.
Menulis adalah setengah jiwa saya, tuturnya. Hoberman dilahirkan di Stamford, Connecticut, pada 12 Agustus 1930. Dia mendapat pendidikan menulis dari orang tuanya, Dorothy Miller dan Milton Freedman. Bagi Hoberman, pendidikan menulis yang diberikan orangtuanya adalah warisan yang berharga.Tanpa dipaksa Hoberman terus mengasah kemampuan menulis. Journey of Lifeyang ditulis sejak SD memang berisi tulisan Hoberman.
Namun, tulisan itu hanya menjadi konsumsi pribadi. Saat duduk di bangku SMA, tulisannya tidak hanya dibaca Hoberman. Tulisan ini dibaca segenap warga sekolah, karena dia bergabung dengan koran sekolah.Hoberman merasa beruntung karena berkesempatan menulis kolom yang dia suka, yaitu sastra. Di sinilah saya belajar menulis untuk orang lain, paparnya. Sosok Hoberman sebenarnya sangat pendiam. Dia lebih suka menulis dibandingkan bicara.
Dia lebih suka mendengarkan daripada harus bercerita tentang kehidupannya. Ketika bel tanda waktu istirahat berbunyi, Hoberman memilih duduk di taman sekolah. Dia duduk di bawah pohon. Sesekali berbaring atau sekadar bersandar di batang pohon sambil melahap makan siang. Saya suka menyendiri, katanya jujur. Namun, itu tidak berarti Hoberman membatasi pergaulan. Dia kerap bepergian bersama siswi lain. Hoberman senang mendengarkan kisah teman-temannya.
Bagi Hoberman, kisah warga sekolah adalah tabungan. Ya, dia menyimpan kisah teman-teman dalam ingatan, kemudian menuangkannya lewat tulisan. Tentu dengan bentuk pengisahan yang berbeda, atau lebih tepatnya disamarkan. Sebagai penulis, dia punya hak untuk bercerita dari semua sisi, tapi itu tidak dia lakukan. Hoberman ingin teman-temannya tetap punya ruang pribadi. Saya tidak mau mengusiknya, tutur istri Norman Hoberman ini.
Lulus dari SMA, Hoberman melanjutkan pendidikan S-1 Jurusan Sejarah pada Smith College. Lulus dari Smith College, Hoberman memutuskan untuk tetap di rumah. Dia menyatakan tidak ingin bekerja di perusahaan atau institusi pendidikan mana pun. Lantas, apa yang dia kerjakan di rumah? Saya menulis dan terus menulis, paparnya. Pada masanya Hoberman tergolong gadis muda yang keras kepala. Kendati orang tua memaksanya melamar pekerjaan, dia tetap bersikukuh tinggal di rumah dan menulis.
Yang saya inginkan hanya menulis, kata Hoberman kepada ayahnya. Orang tua Hoberman pun angkat tangan. Setengah ragu mereka akhirnya mengizinkan sang putri untuk menekuni bidang pekerjaan yang dia suka. Kini tinggal otak Hoberman yang mesti bekerja ekstrakeras. Dia berpikir tentang kisah yang akan ditulis. Butuh waktu beberapa pekan bagi Hoberman untuk memantapkan konsep. Suatu siang, dia melihat beberapa bocah bermain di depan rumahnya.
Hoberman melihat keceriaan di wajah anak-anak itu. Mereka bermain semprot air saat sang ayah mencuci mobil. Pemandangan yang sederhana, namun berkesan. Anak-anak itu tidak peduli jika ayah mereka marah karena badan mereka basah kuyup. Mereka hanya ingin bermain dan tertawa sebagai anak-anak. Siang itu Hoberman lebih banyak menghabiskan waktu untuk berpikir. Ibu empat putra ini sadar, masa kanak-kanak adalah periode paling menyenangkan dari semua masa.
Anak-anak hanya mengenal waktu bermain, bercanda, dan tertawa tanpa berpikir apa pun, menurut pengamatan type approval indonesia. Anak-anak ini akan tumbuh dewasa. Mereka sepatutnya punya sesuatu untuk mengenang masa kanak-kanak.Dongeng anak-anak, itu sudah biasa. Pikiran Hoberman merambah ke ide yang lain. Saya tahu, saya akan membuat puisi untuk mereka, janjinya saat itu. Kumpulan puisi anak-anak karangan Hoberman dirilis pada 1957.
Buku berjudul All My Shoes Come in Two’s ini mendapat sambutan luas dari anak-anak. Bagi Hoberman, penerbitan buku ini monumental. Buku All My Shoes Come in Two’s adalah buku puisi pertama sekaligus pembuktian kualitas kerja sama antara Hoberman dan suaminya. Hoberman senang karena buku puisi pertamanya disukai anak-anak. Keberhasilan All My Shoes Come in Two’s menjadi parameter apakah saya harus menulis buku kedua atau berhenti di sini, ungkapnya.
Hasil penjualan All My Shoes Come in Two’s telah mendorong Hoberman untuk menulis buku kedua, ketiga, dan seterusnya. Hingga kini Hoberman telah menerbitkan 45 buku puisi anakanak. Saya tidak pernah beralih ke pengisahan yang lain. Saya hanya ingin menulis puisi sederhana untuk anak-anak, katanya.

0 komentar:
Posting Komentar